October 12, 2026

Ritus yang ada di Kalurahan Pandowoharjo

January 22, 2026

DAPOBUD-OPK: Ritus,

A. UPACARA PERKAWINAN

1) Lamaran
Lamaran adalah sebuah prosesi resmi dalam pernikahan di mana pihak keluarga calon mempelai pria datang ke keluarga calon mempelai wanita untuk meminta izin dan meminang sang wanita untuk dinikahi. Lamaran lebih dari sekadar lamaran pribadi karena melibatkan kedua keluarga besar dan sering kali meliputi acara-acara penting seperti penyerahan seserahan, pertukaran cincin, dan penentuan tanggal pernikahan.

2) Upacara Tarub
Upacara Tarub adalah tradisi Jawa berupa pemasangan atap sementara atau tenda untuk persiapan pernikahan yang berfungsi menambah ruang bagi tamu. Tradisi ini juga melibatkan pemasangan hiasan seperti bleketepe (anyaman daun kelapa) dan tuwuhan (tumbuhan misalnya pisang, kelapa muda, dan janur) sebagai simbok doa dan harapan keselamatan bagi pengantin.

   

3) Siraman
Upacara adat dan tradisi Siraman adalah bagian dari rangkaian adat pernikahan, dilakukan sebelum prosesi akad
nikah. Upacara ini melibatkan pemandian calon pengantin dengan air yang dicampur kembang setaman (bunga-bunga harum) dan berbagai perlengkapan lain, dengan tujuan membersihkan diri secara lahir dan batin. Kegiatan ini bertujuan agar kedua calon pengantin memasuki kehidupan pernikahan dalam keadaan suci lahir dan batin. Siraman juga merupakan bentuk doa dan permohonan agar kedua mempelai diberikan keberkahan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga.

4) Midodareni
Upacara midodareni mempunyai makna bahwa pada malam hari bidadari akan turun dan dapat memberi kecantikan kepada calon pengantin wanita. Kata “Midodareni” berasal dari kata “Widodari” atau “Bidadari”. Upacara ini biasanya pada malam hari sampai tengah malam, dan pengantin wanita tidak boleh tidur atau keluar dari kamar dan pengantin tidak boleh bertemu dengan tamu laki-laki atau calon pengantin laki-laki.

5) Ijab
Ijab merupakan upacara pokok dalam pelaksanaan upacara perkawianan adat Jawa khas Yogyakarta, karena menyangkut sah dan tidaknya perkawinan, baik secara hukum agama maupun hokum Negara. Dalam upacara ini calon pengantin pria mengucapkan sumpah kepada Allah SWT yang disaksikan oleh kedua orangtua dan seluruh keluarga. Kelengkapan upaca ijiab berupa uborampe yang dinamakan sanggan.    

6) Panggih
Upacara ini merupakan symbol pertemuan antara pengantin pria dan pengantin wanita. Upacara panggih diadakan setelah pelaksanaan ijab, yakni pengantin pria didampingi kedua orang tua beserta keluarganya menuju rumah pengantin wanita. Kemudian pengantin wanita keluar kamar didampingi oleh kedua orang tua dan keluarga. Setelah
itu kedua pengantin berjalan bergandengan menuju ke pelaminan dan dilanjutkan dengan tahapan kacar kucur, makan bersama (dhahar walimah) dan sungkeman kepada orangtua mempelai.           

 

B. UPACARA ADAT KELAHIRAN

1) Mapati atau Nglimani
Mapati atau Nglimani adalah peringatan bahwa bayi dalam kandungan ibu sudah berusia empat atau lima bulan.
Acaranya berupa syukuran atau kenduri berupa nasi gurih dan kelengkapannya atau nasi gudhangan (ujungan) dan
kelengkapannya. Setelah diberi doa kemudian dibagikan kepada sanak saudara dan masyarakat sekitar.

2) Mitoni
peringatan Mitoni adalah bahwa bayi dalam kandungan ibu sudah berusia tujuh bulan. Acaranya berupa syukuran
atau kenduri berupa nasi gurih dan kelengkapannya, juga ada pontang yang dibuat dari daun kelapa yang masih muda atau janur kuning. Selanjutnya pontang tersebut diisi nasi gurih dan lain-lainnya. Dilanjutkan dengan siraman, ganti jarik, brojolan, memecahkan kelapa gading, memotong janur, memecahkan rujak dan diakhiri dengan selametan.

3) Mendem Ari-ari
Mendem ari-ari adalah kegiatan yang dimulai setelah sang bayi lahir, maka ari-arinya dipisah dari perut bayi kemudian dibersihkan lalu dimasukan ke dalam tempat atau wadah tertentu (gendhogo) dan ditaburi daun dadap serep, dlingo bengkle, adas pulowaras dan dikubur disamping kanan atau kiri pintu utama tergantung jenis kelamin si bayi. Sesuai adat maka yang mengubur adalah bapak si bayi yang digendong dengan jarik jawa, setelah itu dipasangi lampu.

4) Brokohan
Brokohan adalah tasyakuran atau kenduri sesaat setelah kelahiran sang jabang bayi. Adapun wujudnya adalah nasi
wajar atau nasi gurih.
– Jika nasi wajar, berupa pecel dan telur dadar diiris kecil kecil
– Jika nasi gurih, berupa ayam kampung, gorengan, kedelai hitam dan kobis diiris kecil-kecil, lan sanes-sanesipun.

5) Sepasaran
Sepasaran adalah kenduri setelah sang jabang bayi lahir genap berumur lima hari (sepasar).Adapun wujudnya adalah nasi sayuran (ujungan) ataunasi wajar ditambah telur rebus. Kemudian ada bubur merahputih atau jenang abang-putih sebagai syarat untukpemberian nama atau tetenger sang jabang bayi.

6) Puputan
Puputan adalah pisahnya atau puput pusar atau wudel sang bayi. Biasanya juga diadakan syukuran atau kenduri
(kembul bujono) berupa nasi gurih, ayam, peyek, tempe dan kedelai hitam.

7) Aqiqah
Aqiqah bisa dilaksanakan setelah bayi lahir genap 7 (tujuh), 14 (empat belas) hari, dan seterusnya. Aqiqah berupa
syukuran dengan menyembelih kambing. Jika bayi laki-laki menyembelih 2 (dua) ekor kambing dan jika bayi perempuan adalah 1 (satu) ekor kambing. Kenduri berupa nasi wajar dan dilanjutkan dengan potong rambut. Adapun daging kambing yang sudah masak dibagikan kepada warga masyarakat sekitar.

8) Selapanan
Selapanan adalah syukuran atau kenduri jika sang bayi sudah berusia selapan atau 35 (tiga puluh lima) hari, berupa nasi sayur (ujungan/gudhangan) komplit.

 

 

 

 

9) Wetonan
Wetonan adalah kenduri syukuran peringatan (wetonan) sang bayi setiap selapan atau 35 (tiga puluh lima ) hari. Misal, bayi lahir pada hari Kamis pon, maka setiap kamis pon diadakan kenduri syukuran (among-among) berupa nasi sayur (ujungan/gudhangan) komplit. 

 

 

 

 

10) Tedhak Siten
Tedhak Siten adalah upacara adat Jawa yang dilakukan ketika seorang anak pertama kali menapakkan kakinya di
tanah. Upacara ini biasanya dilakukan Ketika anak berusia sekitar delapan bulan. Tujuan dari Tedhak Siten adalah untuk memberikan penghormatan kepada bumi dan sebagai simbol bahwa anak mulai belajar berjalan dan siap meniti kehidupan selanjutnya. Secara harfiah, kata “Tedhak” berarti turun atau menginjak, sedangkan “Siten” berarti tanah, sehingga Tedhak Siten memiliki makna yang dalam dalam kontek budaya Jawa. 

11) Tetesan
Tetesan adalah sebuah upacara adat Jawa untuk menandai peralihan anak perempuan dari masa kanak-kanak
ke masa remaja. Namun seiring berkembangnya zaman, upacara tetesan dapat dilakukan pada saat bayi. Upacara
melibatkan siraman air kembang, minum jamu (loloh), mengenakan busana adat (seperti sabuk wolo), dan doa restu. Bahan seperti kunyit digunakan sebagai simbol pembersihan/penyucian. serta menjadi bagian budaya yang
masih dilestarikan di Kalurahan Pandowoharjo. Tradisi ini sarat makna, mengajarkan anak perempuan tentang peran, kebersihan, dan budaya, meski pelaksanaannya bervariasi tergantung keluarga dan keyakinan.

12) Sunatan
Sunatan atau Khitan adalah prosedur pembedahan minor untuk mengangkat kulup (preputium) dari penis. Di
Pandowoharjo, praktik ini merupakan tradisi yang sangat mengakar, terutama karena mayoritas penduduknya
beragama Islam, di mana khitan adalah syariat (perintah agama) yang penting.
Prosedur khitan modern umumnya dilakukan oleh tenaga medis profesional (dokter atau perawat) menggunakan teknik dan peralatan steril untuk memastikan keamanan dan kenyamanan anak. Setelah prosedur, anak akan menjalani masa pemulihan singkat dengan panduan perawatan luka yang tepat.
Secara keseluruhan, sunatan adalah ritual inisiasi yang kaya makna, menyatukan nilai-nilai keagamaan, budaya, dan praktik kesehatan demi kesejahteraan dan identitas seseorang di masyarakat.

 

C. UPACARA ADAT KEMATIAN 

1) Pangrukti loyo (perawatan jenazah).
Pangrukti loyo adalah perawatan jenazah yang baru saja meninggal dunia. Urutannya jenazah dimandikan yang bersih, kemudian dikafani (ditutup dan diikat menggunakan kain putih), ditaburi kayu cendana untuk menutupi lubang yang jumlahnya 9 (Sembilan) atau babahan howo songo. Dilanjutkan dengan dishalatkan dan dimakamkan.

2) Nyebar Dhuwit
Nyebar dhuwit atau menyebar uang adalah menyebar uang recehan (kecil) dicampur dengan beras kuning bersamaan dengan perjalanan mengiringi jenazah sampai ke pemakaman. 

 

 

 

 

3) Surtanah
Surtanah adalah kenduri setelah selesai pemakaman jenazah. Adapun wujudnya berupa nasi golong, nasi tumpeng
ungkur, dan kelengkapan lainnya.

4) Susupan
Susupan adalah seluruh keluarga atau kerabat almarhum/almarhumah berjalan bersama-sama secara bergiliran di bawah keranda jenazah sesaat sebelum pemberangkatan jenazah ke pemakamanan. Setelah menyusup sebanyak 3 (tiga) kali, jenazah bisa diberangkatkan ke pemakaman.

5) Nelung Dina
Upacara adat dan tradisi Nelung Dina atau 3 hari adalah tradisi membacakan doa-doa dan ayat Al-Quran untuk
orang yang meninggal dunia, biasanya dilakukan pada hari ke tiga setelah kematian. Kegiatan ini bertujuan untuk
memohonkan ampunan dosa, rahmat Allah, dan tempat yang layak di sisi-Nya bagi arwah orang yang telah meninggal. Adapun wujudnya berupa nasi nasi gurih, ayam, dan kelengkapan lainnya, termasuk kembang setaman.

6) Mitung Dina
Upacara adat dan tradisi Mitung Dina atau 7 hari adalah tradisi membacakan doa-doa dan ayat Al-Quran untuk
orang yang meninggal dunia, biasanya dilakukan pada hari ke tujuh setelah kematian. Kegiatan ini bertujuan untuk
memohonkan ampunan dosa, rahmat Allah, dan tempat yang layak di sisi-Nya bagi arwah orang yang telah meninggal.

7) Matang Puluh Dina
Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari ke 40 dari kematian.

8) Nyatus Dina
Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari ke 100 dari kematian.

9) Setahunan
Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari tepat 1 tahun dari kematian.

10) Rong tahunan
Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari tepat 2 tahun dari kematian

11) Nyewu
Nyewu adalah puncak dari kenduri peringatan kematian dari almarhum/almarhumah. Biasanya diadakan
secara besar-besaran karena sudah terakhir dari tahapan kenduri dalam rangka mendoakan arwah almarhum atau
almarhumah. Kegiatannya seperti hajatan, yakni banyak orang atau kerabat yang berkunjung (nyumbang). Tidak
sedikit yang sebelumnya diadakan pembacaan Al Qur’an 30 juz oleh masyarakat dan pengajian besar.