October 12, 2026

Bangunan Warisan Budaya

January 22, 2026

DAPOBUD-OPK: Warisan Budaya Benda,

1. Joglo Majegan
Diberi nama Majegan karena dulunya merupakan tempat untuk mengumpulkan pajak kemudian di kumpulkan dan
diserahkan ke kraton Yogyakarta. Joglonya dibuat oleh Mbah Demang tahun 1890an Joglo tersebut dulunya juga digunakan untuk kantor Kalurahan lama Majegan. Joglo Kademangan tersebut terbuat dari kayu pohon nangka, karena pohon jati dulunya dijarah semua oleh Belanda. Joglo Kademangan tersebut belum pernah direnovasi sampai sekarang, hanya saja membenahai bagian-bagian yang sudah keropos (tambal sulam). Joglo Kademangan merupakan warisan budaya belum termasuk cagar budaya. Rata-rata joglo di Yogyakarta selalu menghadap ke selatan karena menghadap ke Kraton Yogyakarta, tak terkecuali Joglo Kademangan ini.

2. Joglo Brayut
Brayut di awal tahun 1900-an merupakan pusat Kelurahan Brayut. Walaupun sebagai pusat kelurahan, saat itu
kantor lurah masih berada di rumah lurah yang menjabat. Setidaknya terdapat 2 rumah joglo yang pernah digunakan sebagai kantor kelurahan yaitu Joglo Mertoredjan dan Joglo Kartopiyogo. Fungsi sebagai kantor lurah bertahan hingga akhir tahun 1940-an karena terjadi blengketan atau penggabungan kalurahan Brayut dengan Majegan, Jabung, Sawahan, dan Tlacap menjadi Kalurahan Pandowoharjo Brayut memiliki beragam bentuk rumah tradisional Jawa yang terawat dengan baik. Yaitu limasan sinom, limasan cere gancet, limasan pacul growang, dan kampung.

Usia rumah-rumah tersebut rata-rata setengah abad bahkan lebih, tentunya menyimpan nilai penting bagi keluarga pemilik maupun warga Brayut. Salah satunya adalah rumah joglo Mertoredjo. Pemilik asal joglo Mertoredjo adalah Lurah Mertoredjo yang merupakan lurah pertama Brayut dan merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II. Sebagai keturunan ningrat dan menjadi pimpinan di suatu wilayah, menjadikannya berhak untuk membangun rumah joglo.

Joglo Mertoredjo terbagi menjadi dua yaitu bagian luar dan dalam. Bagian luar terdiri dari teras, pendopo, dan pringgitan. Roda pemerintahan kelurahan pada masa Lurah Mertoredjo bertempat di pendopo. Model pendopo bertelundak yaitu pada bagian tengah satu trap lebih tinggi pada bagian emper sekelilingnya. Hal ini berkaitan dengan pola strata sosial zaman dahulu lebih tegas.

Ruang bagian dalam digunakan untuk tempat tinggal lurah. Bagian-bagiannya terdiri dari dalem, senthong kiwa, senthong tengah, senthong tengen, sepen, dapur, dan lumbung. Sepen berarti ruang yang paling sempit berada di bagian belakang sebelah barat. Pada zamannya digunakan untuk penjara atau kurungan sementara bagi pencuri maupun orang yang bertindak salah. Fungsi “senthong tengah” telah berubah dari peruntukkan semula, yaitu sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka seperti keris, patung Dewi Sri, dan sebagainya. Saat ini difungsingkan sebagai kamar tidur. Bagian terakhir adalah lumbung, ruang ini cukup vital pada zamannya karena warga Brayut termasuk petani yang memiliki lahan luas.
Menurut Vitasurya seorang arsitek yang meneliti bangunan di Brayut, Joglo Mertoredjo masih menggunakan atap empyak raguman yaitu susunan bilah bambu yang ditata secara memanjang, tidak hanya menopang kekuatan namun memberi suasana alami dalam rumah tradisional Jawa. Empyak raguman merupakan bagian bangunan yang menjadi ciri khas Kabupaten Sleman berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 15 tahun 2015 tentang pengelolaan warisan budaya dan cagar budaya.
Kebijakan pemerintah dalam pelestarian rumah tradisional Jawa di Brayut memberikan dampak pada kewajiban rumah tangga untuk merawat dan melestarikan karakteristik gaya bangunan tradisional. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2015 telah menetapkan Joglo Mertoredjo dengan Piagam Penghargaan Nomor 136/PG/2015 tentang Pelestari dan Penggiat Budaya di Bidang Pelestari Warisan Budaya sebagai bangunan warisan budaya. Implikasi dari kebijakan tersebut adalah adanya bantuan dana perawatan oleh pemerintah yang diberikan secara berkala. Penggunaan dana bantuan tersebut untuk merenovasi terbatas bagian-bagian yang rusak seperti
blandar, empyak, dan wuwung.

3. Joglo Lawas Temon
Joglo lawas Padukuhan Temon merupakan bangunan bersejarah yang usianya sudah sangat tua dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang masyarakat Temon. Berdiri kokoh dengan arsitektur tradisional Jawa, joglo ini menyimpan nilai-nilai kearifan lokal, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang diwariskan oleh para leluhur.

Sejak dahulu, joglo lawas ini menjadi pusat aktivitas warga Padukuhan Temon, tempat berlangsungnya musyawarah, kegiatan sosial, dan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat. Hingga kini, keberadaannya tetap dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Saat ini, joglo tersebut difungsikan sebagai Sekretariat Kampung Dolanan Bocah Temon serta menjadi pusat penyelenggaraan berbagai kegiatan Padukuhan Temon, Kalurahan Pandowoharjo.

4. Monumen Perang Brayut
Berbentuk tugu segi empat, terletak di atas batur bertingkat. Bagian terdapat undakan. Berlambang obor menyala berwarna merah, senjata bersilang. padi dan
kapas. Pagi hari kira-kira pukul 05.00 tanggal 6 Mei 1949 para pejuang pimpinan Soepardjo Suryo di Brayut dikejutkan berita yang dibawa seorang polisi pager projo yang bernama Supeni, bahwa dari arah Yogyakarta ada sepasukan Belanda menuju
Turi. Bakir sebagai komandan penyerangan segera membangunkan anak buahnya, yang semalam ada 35 orang, tetapi ternyata pagi itu hanya ada 9 orang. Yang lain jelas tidak mungkin karena sudah bangun dan entah kemana. Karena kekuatan hanya satu regu, jelas tidak mungkin menghadapi Belanda. Sebagai langkah pengamanan mereka menenggelamkan senjatanya dan mundur ke arah utara. Ternyata Belanda tidak hanya dari arah selatan, tetapi juga dan arah utara dan timur. Pasukan Bakir akhirnya dapat bergabung dengan pasukan Sriyono melindungi rakyat Brayut sambil memberikan perlawanan kepada Belanda. Dalam pertempuran Brayut yang menjadi korban sebanyak 14 orang. Keberadaan Brayut yang sangat penting saat itu meninggalkan berbagai jejak perjuangan rakyat.

Menurut cerita warga Brayut yang bernama Bapak Witokusni terdapat sisa 4 truk dan 2 motor harley bekas tentara Jepang. Berbagai senjata rampasan juga ditemukan seperti karaben, mauser, dan gerund. Pada masa lalu pernahmenemukan setidaknya 360 butir peluru dan granat serta bom seberat 21 kilogram di pinggir sungai sebelah timur Dusun Brayut.

Monumen Brayut dibangun untuk mengenang pertempuran akibat penyerbuan Belanda ke dusun Brayut untuk para
pejuang yang bersembunyi di Dusun tersebut. Monumen dibangun oleh Pemda Sleman.

Daftar Pejuang
1. Sarjiman
2. R. Budiono
3. Darmo Suprapto
4. Prawiro Dimejo
5. Kromo
6. Surdikromo
7. Cokrowiharjo
8. Jono
9. Kusen
10. Haryono
11. Suprapto
12. R. Supraptoharjo
13. Wongso Paijo
14. Dalijo

5. Bunker Brayut
Bunker ini digunakan sebagai tempat persembunyian warga Brayut dan sekitarnya dari serangan tentara Belanda. Karena bunker ini banyak masyarakat Brayut yang terselamatkan. Pada peristiwa Jumat Wage Mei 1949, sekitar pukul 05.30 hingga 11.00 WIB, dusun Brayut diserang oleh tentara Belanda yang untuk memusnahkan/menangkap anak laki-laki karena dianggap sebagai pejuang. Sekitar 50-60 anak laki-laki selamat dari pengepungan tersebut dengan masuk dan bersembunyi di dalam Bunker. Panjang bunker ini sekitar 50 meter dengan ketinggian 70-80 cm.
Bapak Sudarno yaitu orang yang paling muda pada saat sembunyi di Bunker (pada saat itu beliau berusia 10 tahun) dan sampai sekarang beliau masih hidup. Dan menurut beliau bunker ini dulunya adalah saluran pembuangan limbah pabrik pewarna kain (medel).
Setelah pabrik tidak berproduksi, kemudian ada peristiwa penyerbuan oleh Belanda pada tahun 1949. Kemudian Belanda menembak lorong tersebut karena mengetahui ada orang yang terakhir masuk dan diketahui oleh Belanda.
Belanda menembak lorong tersebut dari luar dan suaranya menggema sampai ke dalam, dan orang yang di dalam semunya hampir tuli. Tetapi yang di dalam bunker Brayut ini sudah hampir meninggal, karena kekurangan pasokan oksigen dengan kondisi lorong yang sempit & gelap dan banyaknya orang yang ada di dalam. Karena adanya bunker Brayut tersebut maka banyak warga Brayut yang terselamatkan.

   

6. Makam Pahlawan Jhunsa Soepadi
Junsha Soepadi sebagai pahlawan kemerdekaan saat melakukan serbuan senjata pertama kali oleh Polisi Istimewa bersama BKR dan laskar Rakyat. Dalam kontak senjata melawan Jepang ini menyebabkan 21 pejuang gugur, diantaranya Junsha Soepadi dari Kepolisian yang belum banyak masyarakat. dikenal Soepadi adalah anggota Polisi Istimewa yang bergabung dalam AMPRI (Angkatan Muda Polisi Republik Indonesia) adalah anak mandor tebu asal Plalangan. Sedangkan ayahnya berasal dari padukuhan Cilikan Umbulmartani Ngemplak. Ia dilahirkan pada 1923
di kampung Cilikan. Kemudian bersama orang tuanya pindah ke Gajah Kuning Pandowoharjo. Ketika berusia 10 tahun pindah ke Padukuhan Plalangan. Nama Soepadi selain tercatat dalam Prasasti Serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945, juga salah satu pejuang yang gugur dalam perebutan gudang senjata melawan tentara Jepang.

7. Makam Kyai Santri
Kyai santri (muntilan ) mengutus santrinya yg bernama kyai Amir utk syiar berda’wah di dsn Saragan , karanglo dan tambakrejo bersama kyai sekar alas (mataram) yg di dawuhi oleh kyai Bolawi yg saat itu menjabat Tumenggung . Seringnya syiar sesorah di dsn Saragan (skrg) . Sempat saragan bernama Soroh krn seringnya yg byk orang menimba ilmu dgn kyai Amir. Stlh wafat kyai Amir di juluki mbah santri oleh santri²nya dan orang² sekitar. Tugu depan mesjid.Dulu oleh Lurah Suro (surodiro )memberi tenger /tetenger /tanda. Di karanglo dan saragan. Sbg bentuk pemersatu perlawanan perjuangan. Yg saragan di pasrahkan kpd Mbh Harjo pawiro utk di tanam di jln msk mesjid (skrg) . Sbg bentuk memetri /melestarikan budaya tradisional jawa.

8. Situs Sendang Jetis Jogopaten
Situs Jetis Jogopaten terletak di Dusun Jetis Jogopaten, Kelurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten
Sleman. Yang tersisa dari situs ini adalah tiga buah batu candi, dua di antaranya adalah hiasan kala dan satu buah relief kinara-kinari di bawah pohon kalpataru. Ketiga batu ini dijadikan hiasan sebuah sendang di Dusun Jetis Jogopaten tersebut.
Batu-batu tersebut ditemukan terdampar di sebuah sungai yang tidak jauh dari lokasi sendang. Selain batu-batu
tersebut, pernah ditemukan arca dan batu-batu lain yang kini diamankan di kantor BP3. Upaya pemindahan batu ini
dilakukan oleh warga setempat, guna melestarikan. peninggalan purbakala yang ada di dusun tersebut.

9. Belik Gayam Karangtanjung
Bangunan Belik Gayam yang terletak di Padukuhan Karangtanjung, Kalurahan Pandowoharjo, merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang hingga kini masih memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat setempat. Bangunan ini awalnya dibangun sebagai sumber mata air yang dikelola secara terstruktur untuk memenuhi kebutuhan air pada masa itu.
Hingga sekarang, keberadaan Belik Gayam tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjalanan wilayah Pandowoharjo. Bangunan ini mencerminkan kearifan pengelolaan sumber daya air pada masa lampau yang masih relevan hingga saat ini. Oleh karena itu, Belik Gayam memiliki nilai sejarah, sosial, dan budaya
yang tinggi, serta perlu dijaga dan dilestarikan sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.

10. Makam Eyang Gagak Rimang
Eyang Gagak Rimang merupakan tokoh sakti dan pejuang yang sangat dihormati oleh masyarakat Padukuhan Gawar. Sosok beliau  dikenal sebagai figur yang memiliki keberanian, kebijaksanaan, serta kekuatan lahir dan batin dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Eyang Gagak Rimang digambarkan sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, selalu membela kepentingan masyarakat, dan tidak gentar menghadapi penindasan penjajah.
Hingga kini, nama Eyang Gagak Rimang tetap hidup dan dikenang oleh masyarakat Padukuhan Gawar. Sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian nilai-nilai perjuangan beliau, nama Gagak Rimang diabadikan menjadi nama kelompok bregodo, yaitu Bregodo Gagak Rimang. Bregodo ini tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari tradisi dan kegiatan budaya, tetapi juga menjadi simbol semangat persatuan, keberanian, dan kecintaan terhadap sejarah perjuangan lokal yang diwariskan oleh Eyang Gagak Rimang kepada generasi penerus.